Tidak akan pernah pudar

Kalau pernah dengar sebuah pernyataan tentang orangtua yang seperti ini:

Jika seorang ibu melihat anaknya jatuh ke sumur, pasti tidak akan ia memikir dua kali untuk turun menolong anaknya tersebut. Tapi jika seorang anak yang melihat ibunya jatuh ke dalam sumur, berpikir berapa kali pun belum tentu ia akan turun menolong ibunya.

Pernyataan ini bisa jadi benar dan benar-benar saya rasakan tentang pengorbanan orangtua saya. Bahkan sampai sekarang saya ingin menjadi orangtua pun saya tetap merasakan itu. Tidak akan pernah pudar. Semakin kita ingin menjadi orangtua, semakin kita membutuhkan orangtua kita.

Sampai kehamilan jalan 4 bulan ini, baru kemarin saya menginap di rumah orangtua di Depok. Ya Allah, betapa saya merasakan sungguh kasih sayang mereka. Lebih…semakin saya tumbuh …kasih sayang mereka pun turut semakin besar saya rasakan. Aba dan Mama saya bergantian untuk memijat saya, karena memang saya masih merasakan mabuk karena ngidam. Bahkan ketika saya terbangun jam 3 malam karena merasa lapar. Keduanya pun ikut bangun, menemani saya makan, mengambilkan saya minum. Ya Allah… mungkin apa yang mereka rasakan saat ini, akan saya rasakan sesaat lagi, ketika saya menjadi ibu.

Pagi ini selesai sholat Idul Adha, saya harus kembali ke Tebet, ke rumah. Saya juga harus kembali bekerja. Ya Allah sungguh rasanya baru kali ini saya merasakan begitu berat meninggalkan rumah orangtua saya. Benar-benar saya sangat membutuhkan mereka.

Jagalah mereka ya Allah, orangtua kami, anak, suami, dan saudara kami …. Amiin ….

Advertisements

Pejuang dan Pencari Uang

Kebayang kalau sekarang ini saya harus mencari nafkah seperti cara bapak saya dahulu.
Kebayang di siang terik saya berada di keramaian pasar, berdiri selama hampir 12 jam, melayani pelanggan, meraup untung beberapa rupiah.Sudah lama tidak pernah terbayang betapa sulitnya bapak saya mengumpulkan uang. Tapi beliau selalu bilang, ketika sore menjelang, pulang, capeknya hilang hanya dengan melihat anak-anaknya yang tumbuh menyenangkan.Sekarang, apa benar dengan yang dibayangkan, sehingga saya merasa tidak akan pernah sanggup menjadi dirinya. Bapak yang luar biasa. Kami tumbuh besar, kami mencari uang, tidak dengan cara yang sama, jauh lebih ringan dari yang beliau lakukan.

Saya semakin yakin, jika yang dilakukan selama ini sungguh diridhai Tuhan, karena sedikit pun tidak ada keluhan. Seberat apapun beliau jalani dengan rasa senang luar biasa.

Itulah bedanya kau dengan kami. Kau pejuang, dan kami sekadar pencari uang.

Salam
Tuesday, 08 December 2009

Yoga for Your Focus

I’ve known yoga, I’ve heard about an exercise called yoga. But I just learnedines_somellera yoga few hours ago. I didn’t learn by watching the video tutorial, I also didn’t learn yoga in a class. I had a private lesson that was teached by Ines Somellera. Wow! I was  so lucky, if not, how much money should I spend to get this lesson. She comes from Mexico and now she lives in Jakarta. Ines Somellera is most-known yoga teacher at any workshops in Indonesia and many countries. Not only teaching a yoga, she is also an actress, director, and producer for some theater and dances. She has just launched “Hints” a book about her journey with yoga. She wrote that book with one of her best partner, mba Felia Salim.

Mba Ines, I call her. I was excited and agreed when she offered me to learn yoga. She explained me about the advantages from yoga. We will have our mind, heart, and body become one. We call it “being focus”. We will get healthy and happy. Why we can get healthy because of yoga does the body detox automatically and happy because of your heart is big open even you are alone.

The most important thing in yoga is your breathing. In naturally when we are breathing we use our nose and mouth, but in yoga we use our throat. She gave me some exercises of yoga then I felt calm, quite. Yoga is so nice even I felt little pain when I was scratching my legs 😀

Mba Ines gave me a yoga mattress as a gift, she said that I should to do yoga for balancing in the morning, after work, and whenever by listening to the music. And one thing that most motivated me was by doing the right yoga, you will not have any fat, especially in your stomach 😉

How I met her? Since May 2009, I’m a freelancer at ESAS (Empu Sendok Arts Stations)  mba Ines and friend’s company. I work there to make a video company profile for ESAS that serves as a platform to promote multi-cultural and multi-discipline collaborative works.

It’s nice for me, I have a good job, good environment it’s because of yoga. Goodluck always 😉

*maaf kalo bahasa inggrisnya ngawur euuy 😀

Sang Panglima Tertinggi

Inilah program yang mengantarkan saya pada perusahaan ini. Program dokumenter berdurasi 30 menit setiap episodenya. Materi yang digunakan adalah dokumentasi baik video, audio, photo, kliping koran, dll, tanpa ada shooting. Sekitar 1 tahun yang lalu saya mengerjakan program ini dimulai dari episode Soeharto. Saya masih freelance saat itu, sampai akhirnya saya ditawarkan bekerja tetap disini.

Sekarang saya tinggal menyelesaikan episode SBY. Banyak suka dan duka menjadi production assistant untuk program ini. Awalnya saya seperti mengerjakan program ghaib. Namun belakangan saya sudah mulai merasa menikmatinya. Saya sudah mulai tahu bagaimana menembus birokrasi untuk mendapatkan materi-materi dokumentasi yang dibutuhkan untuk program tentang para mantan dan presiden RI ini.

Arsip Nasional RI. Perpustakaan Nasional RI. TVRI. Partai. Radio-radio. Lembaga-lembaga independent. Juga internet. Dari sanalah saya mendapatkan materinya. Puas? Tentu saja belum. Tapi saya banyak sekali belajar. Bagi saya, satu tahun terakhir ini, sampai pada setengah abad usia saya ini, masa ini adalah masa yang paling banyak mematangkan saya. Urusan pribadi maupun pekerjaan.

Ari Harisman produser program ini yang mengajak saya untuk bergabung. Dia pula yang banyak membantu saya mulai dari urusan birokrasi, pre produksi, produksi sampai paska produksi. Sang Panglima Tertinggi ditulis oleh Alfian Hamzah, kecuali episode SBY yang ditulis oleh Raden Wahyuningrat.

Sang Panglima Tertinggi yang sudah tayang adalah episode Soekarno dan Soeharto di Astro Awani. Yang lainnya masih dalam proses editing. Semoga bisa segera dinikmati oleh banyak orang, dimanapun salurannya 🙂

Best wishes always 🙂

Tetap & Ditetapkan

earthAntara tetap dan ditetapkan. Dua kata yang berbeda. Seperti hidup kita ini, tidak tetap tapi sudah ditetapkan. Sekilas saya teringat beberapa orang teman saya, pria ataupun wanita tentang kriteria jodoh idaman mereka. Yang pria bilang, “cantik, rajin ibadah, baik, gak sombong, dan punya pekerjaan tetap”. Yang wanita bilang, “ganteng sih gak perlu, yang penting orangnya perhatian, tanggung jawab, penghasilan tetap, syukur-syukur udah punya rumah atau mobil, itung-itung itu bonus-lah”.

Pekerjaan tetap. Saat ini saya berstatus sebagai permanent employee alias “pegawai tetap”. Gaji tetap setiap bulannya, tunjangan kesehatan yang pasti, tim yang pasti solid dan hebat-hebat, bos yang luar biasa, meja kerja yang menyenangkan, kantor yang mewah, bisa dibilang saya berada dalam sebuah safety zone alias “area nyaman”. Saya senang dan saya bangga. Tapi belakangan saya takut. Lho kenapa takut? Saya akan keluar dari area tersebut. Sekali lagi, lho kenapa takut? Harusnya saya sadar, semua telah ditetapkan, dan semua yang ada saat ini adalah tidak tetap. Sekitar satu tahunan yang lalu, saya pun pernah berada pada sebuah safety zone, namun akhirnya saya keluar dan masuk ke area saya berada saat ini, yang beberapa tingkat jauh lebih baik.

Tak ada yang abadi, kata Peterpan. Saya ingat perkataan Aba suatu hari, di rumah Depok sambil melihat-lihat foto anak-anaknya semasa kecil. “Semua ini sudah hilang, dan berganti dengan kalian yang sekarang. Rumah ini sepi, dulu ramai, kalian berteriak, bercanda, dan bertengkar. Tapi Aba gak pernah kaget dengan ini semua, karena dulu Aba sudah membayangkan saat ini akan datang”.

Ya, sekali lagi, tidak ada yang tetap. Kondisi iman kita pun tidak tetap, kadang kuat kadang lemah. Maka itu, kita diajarkan sebuah doa.

“Allahumma tsabitna bil iman wa tsabitna bil Islam wa tsabitna bil tauhid wa tsabitna bil ma’rifat min daari dunya ila daaril akhirah”

Kita meminta ditetapkan dalam iman dan Islam. Mungthe-journeykin itu yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Semua telah tertulis. Qadha dan Qadar. Kita tidak bisa memilih kita dilahirkan oleh siapa, itu takdir yang tetap. Kita dalam sebuah perjalanan ke akhirat itu adalah pasti. Namun bagaimana perjalanan itu? Itu qadar, tidak hanya sebuah penyerahan tetapi tergantung pula pada kadar usaha dan doa kita.

Tidak ada yang tetap, tapi semua telah Allah tetapkan. Tidak ada yang abadi. Semua akan pergi dan menghilang dari kita. Atau kita yang akan pergi dan menghilang.

Wallahu’alam bishowab.

Best wishes always 🙂

Menjadi Kartini?

Ibu Kita KartiniKemarin tepatnya, 21 April, ramai-ramai di media, di kantor, dan dimana-mana mendengar kata “Hari Kartini”. Hari dimana kita memperingati kelahiran seorang tokoh Nasional Indonesia, wanita kelahiran Jepara yang semasa hidupnya memperjuangkan emansipasi wanita.

Ya, R.A Kartini memang telah membuka pintu kesempatan bagi para wanita Indonesia untuk bisa mendapatkan haknya dalam segala bidang, “sejajar” dengan pria. Terima kasih Ibu Kartini 🙂

Lalu saya teringat, dulu semasa sekolah, kita selalu memperingati 21 April dengan beragam kegiatan. Apalagi waktu masih di bangku Taman Kanak-kanak, saya ingat betul, beberapa kali di setiap tahunnya saya diikutsertakan dalam sebuah kontes. Entah itu kontes apa, yang pasti Vivi kecil didandani bak Ibu Kartini, berjalan melenggok di atas panggung dan berpose manis ketika sadar akan difoto.

Lihatlah, pose termanis dalam hidup saya yang diabadikan sekitar 2Vivi - 4 tahun0 tahun silam yang saya ikut sertakan dalam “Rabu Seru! 2” ini.

Ohya, masih ingat lagu “Ibu Kita Kartini” yang sering kita nyanyikan dulu? Kalau saya sih sudah lama tidak menyanyikannya lagi.

Ibu kita Kartini, Putri sejati, Putri Indonesia, Harum namanya. Ibu kita Kartini, Pendekar bangsa, Pendekar kaumnya,Untuk merdeka. Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia, Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia

Selamat “Hari Kartini” semoga wanita Indonesia terus sukses dalam segala bidang. Terutama sukses selalu dalam setiap kodratnya sebagai seorang hamba, istri, dan ibu dengan cita-cita yang besar.

Best wishes always 🙂

Nyaris Malpraktik

Menontondan membaca beberapa berita tentang malpraktik dokter stethoscopekepada pasiennya mengingatkan saya pada saat saya dirawat di Rumah Sakit kemarin karena Typhoid. Saya pun teringat seorang teman yang sangat concern dengan “obat apa yang diberikan dokter” ketika anaknya sakit, dia tidak akan menebus resep itu, sampai dia tahu benar, kegunaan dan efek sampingannya. Memang ada kalanya kita harus percaya kepada tindakan dokter, tapi memang benar juga, “jangan sepenuhnya”, kita pun harus aktif, tahu tindakan apa yang dokter lakukan kepada kita, obat apa yang diberikan, terapi, mulai dari indikasi sampai cara penggunaannya.

Waktu itu, pagi hari, kalau tidak salah hari ke-2 atau ke-3 saya dirawat, saya terbangun dan tiba-tiba seorang suster ada di sebelah saya, dia sudah menggantikan infus biasa dengan infus yang berisikan antibiotik. Saya kaget, saya lihat jam, 08.00 pagi. “Lho? Sus, kemarin saya sudah dikasih antibiotik”, kata saya cukup deg-degan. Karena memang suntikan infus antibiotik itu cukup menyiksa, perih dan pegal di tangan, dan setelah itu perut akan sedikit mual. Dengan santai dan ‘sok ramah’ dia menjawab, “Oh, ya sekarang lagi, kan sehari sekali”. “Tapi sus! Bukannya 24 jam sekali! semalam saya disuntik antibiotik jam 8 lho!”. “Oh iya ya??”, hellloooooo??? Begini ya jawaban seorang yang harusnya berpendidikan?.

Lalu segera dia meminta maaf dan mengganti dengan infus biasa. Saya marah. “Daritadi nih??”. “Eee.. Enggak, baru kok”, dia cukup ketakutan. Saya langsung memalingkan wajah saya. Menahan emosi. Tapi, syukurlah saya lihat memang baru sedikit antibiotik yang masuk ke tubuh saya. Setelah itu dia pergi sambil beberapa kali meminta maaf, saya cuek. Kesal. Bete!!!!

Siangnya, ketika dokter visit, saya adukan masalah ini. Saya lihat, wajahnya cukup kesal, lalu menyuruh suster yang mengasisteninya saat itu mencatat masalah itu. Jelas saja, dokternya saja menegaskan, saya diberi antibiotik sama dengan ketika saya tipes pertama itu karena jarak sakit saya sudah lebih dari 1 bulan. Kalau tidak, saya pasti akan dikasih antibiotik yang berbeda. Dan ini?? Dalam 1×24 jam saya mau disuntikkan antibiotik dengan dosis dua kali lipat. Gila apa?

Ini bukan sekali keteledoran yang dilakukan oleh suster di RS itu. Kantibiotics-11edua kalinya saya alami ketika saya dirawat lagi karena nyeri haid luar biasa. Dokter saya bilang, bahwa saya akan diberikan obat yang dimasukkan melalui (maaf) dubur, namanya “kaltrofen”. Saya ingat sekali, bahwa obat ini, dipakai ketika sakitnya benar-benar tidak bisa ditahan. Obat ini akan bereaksi sangat cepat (hanya 10 menit) dibanding jika kita minum obat penahan nyeri yang harus menunggu hilang rasa sakit hingga 1 jam.

Ketika tengah malam saya masuk UGD, saya sudah disuntikkan obat. Paginya, saya sudah tidak nyeri lagi, hanya lemas saja, saya diberi vitamin dan “dumin parasetamol”, sehingga saya banyak tidur. Malamnya, saya dibangunkan, suster sudah ada di samping saya. Dia memiringkan badan saya dan bilang, “maaf ya saya masukkan obatnya ke d*b*r”. Saya kaget lagi. “Apa sus? Kaltrofen?”. “Iya”. “Lho bukannya kalo saya nyeri sekali aja sus?”, emosi lagi nih. Dia jawab dengan santai, “ya ini catetan dari dokternya ‘ekstra’.”. Aduuuuuuhhhhhhh sumpah ya, bodoh banget sih. Ya jelas juga namanya ‘ekstra’. Akhirnya saya harus ngomong lagi, “ya namanya juga ekstra sus, itu kalo saya nyeri nya udah gak bisa ditahan!”. Maaf, cuma itu.

Coba bagaimana jika dua kejadian itu tidak saya sadari. Apalagi kedua kasus itu terkait obat-obatan berdosis tinggi. OD bukan?? Allah menyelamatkan saya. Alhamdulillah.

Hmm … sepertinya kita memang harus mulai dan selalu concern dengan kesehatan serta segala macam pengobatan baik medis ataupun alternatif.

Tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga orang-orang terkasih kita.

Ada yang ingin berbagi?

Intensive Care

Pertama, saya terserang sekitar 4 bulanan yang lalu. Dan ini kali kedua saya terkena Thyphoid a.k.a tipes. Alhamdulillah dalam masa pemulihan. Tapi tetap saja rasanya masih belum enak, masih suka was-was, dan masih sangat hati-hati. Gak boleh capek, gak boleh makan sembarang, walhasil hampir dua minggu ini saya masak sendiri di kos. Apa yang dimasak? Ya macam-macam. Mulai dari omelet, sop daging, sop ikan, sampe kalo mentok banget cuma makan abon pake kerupuk (yang digoreng sendiri tentunya). Bisa dibilang sekarang saya dalam perlakuan “intensive care”. Saya punya perawat khusus untuk hal ini.Berbicara mengenai tipes dan opname. Sebenarnya banyak sekali cerita. Dari tipes pertama sampai yang kedua kalinya ini. Tapi untuk yang sekarang ini banyak “romance” nya. Kalo diceritain semua, yang baca komennya pasti “owwhh soo sweeet…”. HeheGejalanya, sudah cukup lama saya mengalami susah tidur, padahal rasanya ngantuk, capek, dan pusing. Itu saya diamkan saja, fikir, “akh kecapekan aja, masuk angin”, mintalah dipijat sama tukang urut langganan. Setelah dipijat, rasanya sudah enak saja. Tapi itu semu, dengan sombongnya saya terus saja mengisi akhir pekan dengan jalan sama teman-teman. Kondisi badan udah semakin gak enak, terkenalah demam, batuk, pilek, susah BAB, perut seperti bergejolak, dan tentu saja pusing.  Feeling saya sudah gak enak. Rasa ini serupa dengan gejala sakit yang pertama.

Najib, mengantar saya ke dokter, cek darah (trombosit, widal, dan liver), dan benar saja hasil laboratorium menunjukkan beberapa deret angka titer setiap parathypi nya positif semua. Diagnosis Thypoid. Bakteri-bakteri salmonella itu sedang aktif di dalam darah saya. Saya putuskan untuk dirawat di Rumah Sakit saja. Seperti sebelumnya, RS. Mitra Keluarga, Depok. Najib membawa saya kesana. Di RS ini kembali saya dirawat oleh dr. Edwin P.H.H Simatupang, SpD.

Enam hari dirawat, saya pulang ke kos. Saya berencana masuk kantor lusa harinya. Siapa yang menduga, rencana itu gagal, karena kembali di tengah malam, Najib membawa saya ke RS. Saya pingsan sampai 4 kali. Kondisi yang belum stabil dan nyeri haid luar biasa menjadi penyebabnya. Sampai UGD saya diberi suntikan penahan nyeri. Dan saya dirawat kembali, 2 hari.

Untuk masalah nyeri haid, saya sudah menjalani USG kandungan 3 kali. Hasilnya bagus. Alhamdulillah tidak ada kista, uterus normal, dan endometrium normal. Kata dokter, ini masalah hormonal. Tapi memang sakit (nyeri, kram perut) yang saya derita cukup hebat karena saya sampai pingsan. Dan mengatasinya ada beberapa cara, minum pil KB, atau obat-obat penahan nyeri lainnya. Namun, ada terapi yang paling mujarab katanya, “menikah dan segera hamil!”.

Kembali ke tipes saya, penyebabnya adalah pola makan yang tidak teratur, acupan gizi tidak cukup, tidak higienis, kecapekan (menyebabkan tubuh tidak fit), dll. Sedangkan bakteri salmonella itu sendiri bersumber dari feses, air seni, dan polusi udara. Hal-hal itulah yang mungkin mengkontaminasi makanan kita. Apalagi saya terbiasa beli makan di luar. Kita tidak tahu bagaimana proses pembuatan dan penyajian makanan tersebut. Untuk telur saja misalnya, jika kita tidak bersih mencuci cangkangnya terlebih dahulu, maka kemungkinan di cangkang itulah terdapat bakteri salmonella yang berasal dari feses ayamnya.

Intensive care ini harus benar-benar dilakukan selama 2-3 bulan setelah saya sembuh, bahkan dokter pernah bilang selama 6 bulan. Caranya? Tidak boleh capek (tidur minimal 8 jam per hari), makan masakan sendiri (jangan jajan di luar), banyak minum air putih, minum suplemen-Pharmaton Vit (untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan zat-zat lainnya), dan yang pasti tidak boleh “stress”.

Kemarin saya konsultasi dengan dokter saya, sekarang sudah ada Vaksin Thypoid. Walaupun bisa membantu mentamengi tubuh dari serangannya lagi, tapi tetap saja kita harus menjaga untuk tidak makan sembarangan, menjaga kondisi tubuh, olahraga juga tentunya. Vaksinasi ini dilakukan rutin 2 tahun sekali, dan hanya bisa diberikan pada orang-orang yang sudah terpapar bakteri nya. InsyaAllah minggu depan saya akan melakukan vaksinasi tersebut, karena memang harus menunggu kondisi saya sangat fit.

Typhoid (typhoid fever) is a serious disease. It is caused by bacteria called Salmonella Typhi. Typhoid causes a high fever, weakness, stomach pains, headache, loss of appetite, and sometimes a rash. If it is not treated, it can kill up to 30% of people who get it.

Some people who get typhoid become ”carriers,” who can spread the disease to others. Generally, people get typhoid from contaminated food or water. Typhoid is not common in the U.S., and most U.S. citizens who get the disease get it while traveling. Typhoid strikes about 21 million people a year around the world and kills about 200,000. Typhoid vaccine can prevent typhoid.

Silahkan lihat disini!

Sekiranya begitu yang bisa saya share tentang sakit saya, yang semoga tidak akan berulang lagi. Semoga bermanfaat

Terimakasih buat semuanya yang sudah sangat perhatian selama ini…

Aba, Mama, maaf ya ipi ngerepotin mulu…
Ino, Jamal, makasih yak mau ngerawat gw juga
Najib, makasih sayang … juga keluargamu yg sudah direpotkan
Eva, Lia, Bebeng, serta pak De, maaf sudah membuat kalian panik dan merepotkan di malam itu … pake ada adegan telenovela segala lagi .. hehe …

Juga doa teman-teman semua .. terima kasih
Semoga Allah menjaga kalian dan memberi segala kebaikan .. Amiin

Manner is Miracle

wajahnya tidak terlalu tampan. kulitnya sawo matang. rambutnya tertata rapi. dengan gitar ditangannya ia nyanyikan sebuah lagu milik Tompi (lupa judulnya) dengan lebih enak didengar dibanding si empunya. sesekali dia melempar senyumnya pada para penumpang, termasuk saya. ketika ia berkeliling meminta kesediaan penumpang mengisi kantung nafkahnya, ia selalu tersenyum, berkata terimakasih, “selamat jalan”, “sukses selalu”, dll kepada yang memberi atau tidak. pengamen ini punya manner.

sebelumnya, saya naik angkutan 640 itu dapat duduk di barisan tengah, ternyata terlalu sempit, saya membawa dua buah tas hari ini. saya tengok ke belakang, wah masih ada bbrp kursi yg kosong. saya pilih di sebelah seorang bapak muda. uppsss… sial, dia merokok! tapi tidak ada 10 detik ia langsung mematikan rokok yg mungkin baru terbakar 0,5cm saja. Alhamdulillah. saya bilang, “terima kasih pak!”, “apa dek?”, sambil tersenyum ia bertanya. “terima kasih”, saya berikan acungan jempol kepadanya dan dia tertawa. bapak ini juga punya manner.

semua kursi terisi. akhirnya naiklah seorang ibu setengah renta. di bagian depan ada beberapa pria muda. saya fikir, mereka pasti akan mempersilahkan ibu itu menempati punyanya. bbrp menit. tidak ada yg bergerak. si ibu mulai tidak kuat sepertinya, ia nyaris duduk di sebuah gunduk besi yg ada disamping pintu metromini. barulah ada seorang dari belakang yg mencegahnya, mempersilahkan kursinya. yah, lumayanlah, bisa dibilang punya manner walau agak telat.

turunnya, setelah menyebrang jembatan, seperti biasa saya berhenti di ibu penjual rokok & kopi, serta bapak penjual roti & jajanan pasar. kedua orang selalu berdua, di tempat yg sama. saya beli atau tidak, pasti mereka akan menyambut senyum dan kembali menyapa saya. manner mereka menambah arti dalam hari saya.

satu gedung sebelum kantor. ada seorang tukang ojek yg setiap pagi mangkal di depannya. dia pasti akan memanggil saya, “neeeng .. selamat pagiii”, sambil memberi tahu kepada saya, giginya rapi dan putih semua. “hehe …. pagi pak”…. lagi-lagi ttg manner. yang sedikit tapi penuh makna. manner yang sudah menjadi miracle dalam kehidupan hari-hari saya.

– vijamal –

Tamu Besar

“Assalamualaikum. Vie, aku minta maaf atas kesalahan yang kusengaja atau tidak disengaja. Sampaikan maafku juga utk teman-teman yang lain. Ternyata yg paling indah adalah keimanan dalam Islam. Gak usah dibales ya. Tnx”

Begitu kiranya SMS seorang teman di salah satu pagi pekan yang lalu. Reaksi saya pada saat itu adalah ‘cukup khawatir’ sambil menyampaikan amanatnya kepada teman-teman yang lain. Tapi saya tetap membalasnya. “sama-sama mas, saya juga. Saling doa yah”.

Tidak cukup sampai disitu, ia tidak masuk di hari itu sampai hari berikutnya. Lalu di akhir pekan, saya menerima SMS lagi darinya.

“Ass … Vie, masih ingat obrolan kita di kantin museum bank mandiri?”

“Iya mas, ingat. Ttg alam kubur, akhirat, dan hisab. Ada apa? Knp?”

“Ya udah, gpp. Kapan-kapan aku akan berbagi cerita…”

“Oh gitu, oke deh. Tapi mas baik-baik saja kan?”

“Alhamdulillah sekarang lebih baik…”

“Syukurlah, aku tunggu deh ceritanya..”

Kemarin pagi tepatnya, ia menghampiri meja saya.

Setelah obrolan di kantin museum bank mandiri itu, pulang, kondisinya seperti aneh luar biasa. Seluruh badan dingin dan lemas. Seolah seperti ada tamu besar yang akan datang. Ia meminta istrinya untuk menyucikan dirinya, wudhunya masih terjaga, ia minta ganti pakaian. Baju koko bersih, celana rapi, lalu bersiap untuk sembahyang Isya. Ia sholat bersama sang istri dengan penuh khusyuk dan air mata membasahi sajadahnya. Ia benar-benar merasa akan menerima tamu besar. Ia harus bersiap diri. Dengan penuh kesadaran ia ambil kitab suci, melafalkan surat Ilahi dengan tartil. Pipinya semakin basah. Hatinya kini terbanjiri sesuatu bernama tenang. Damai. Namun ia masih terus berfikir, ini tidak biasa saja, sekali lagi: saya akan menerima tamu besar.

Malam itu berlalu dengan jiwa penuh penyerahan. Tangannya mencoba menggapai Tuhan. Memohon untuk tidak ditinggalkan. Dada seperti sesak karena isak yg sudah tidak bisa lagi meledak. Isak yang akhirnya hanya tertahan karena begitu derasnya. Badannya lunglai. Tangan yang semula menengadah kini telah menempel lantai mengepal tak berdaya. Ia sungguh tidak mau ditinggal sendirian. Tamu besar itu akan datang.

Ya tamu itu memang sudah datang.

Derai yg terurai adalah nikmat luar biasa.

Tamu itu adalah rasa besar dalam jiwanya.

Tuhan sedang merangkulnya saat itu.

Membuai dan membuatnya manja.

-vijamal-